INI CAPAIAN PROGRAM PEN NASIONAL KLASTER PERLINDUNGAN SOSIAL

oleh -203 views

KALTENG. (jurnal88.co.id)
Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah berdampak terhadap aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, penanganan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) tidak dapat dilepaskan dari upaya pemulihan perekonomian nasional karena dampak pandemi covid-19 telah menyebabkan penurunan berbagai aktivitas ekonomi yang membahayakan perekonomian nasional. Krisis yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 melumpuhkan ekonomi sebagian besar negara karena menekan kinerja  permintaan dan penawaran. (8/11) 

Dampak dari krisis tersebut, angka pertumbuhan ekonomi dunia terkoreksi, demikian juga yang terjadi di Indonesia. Sebelum adanya Covid-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,02%, walaupun banyak faktor eksternal mempengaruhi pertumbuhan tersebut.

Setelah adanya Covid-19 yaitu pada kuartal I, tahun 2020 pertumbuhan ekonomi terkoreksi menjadi 2,97% akibat menurunnya daya beli dan rendahnya pengeluaran pemerintah. Angka pertumbuhan ekonomi tersebut terkoreksi lagi lebih dalam bahkan mengalami kontraksi sebesar 5,32% (year on year/yoy). Pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (yoy).

Dengan demikian Indonesia resmi masuk ke jurang resesi, setelah pada kuartal II-2020 ekonomi RI juga terkonstraksi alias negatif. Hal ini disebabkan oleh permintaan belum naik, belanja pemerintah masih fokus penanganan Covid-19 sampai dengan ditemukannya vaksin.

Realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sudah mencapai Rp366,86Triliun atau 52,8% dari total anggaran yang disiapkan yakni sebesar Rp695,2 Triliun. Satgas PEN penyaluran Program PEN pada Kuartal IV 2020 dapat ditingkat untuk mendukung pergerakan ekonomi masyarakat sekaligus sebagai daya ungkit pertumbuhan ekonomi.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, kami berharap bahwa sisa anggaran PEN bisa kita terserap semua. Minimal Rp100 Triliun bisa kita salurkan di Kuartal IV 2020,” jelas Ketua Satgas PEN KPCPEN Budi Gunadi Sadikin, pada Konferensi Pers yang diselenggarakan di Istana Kepresidenan, Jakarta, baru-baru ini.

Penyaluran program PEN terbesar berasal dari Klaster Perlindungan Sosial yang memiliki pagu anggaran sebesar Rp203,9 Triliun dan telah terealisasi Rp176,38 Triliun atau tersalurkan 86,51% dari total anggaran. Program-program perlindungan sosial dari bulan ke bulan terus terpenetrasi dengan semakin baik. Program-program yang termasuk klaster perlindungan sosial antara lain, PKH (Program Keluarga Harapan), Kartu Sembako/BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), Bansos Tunai Non-Jabodetabek, Bansos Sembako Jabodetabek, Logistik/ Pangan/Sembako, BLT (Bantuan Langsung Tunai) Dana Desa, dan Diskon Listrik.

Menteri Sosial, Juliari P. Batubara menjelaskan “Untuk Klaster Perlindungan Sosial yang berada di bawah program Kementerian Sosial memiliki pagu anggaran sebesar Rp128,9 Triliun. Anggaran ini sudah terserap Rp112,7 Triliun (87,44%). Sisanya sudah dijadwalkan untuk pencairan di bulan November-Desember,” ungkapnya.

Program perlindungan sosial yang telah dimulai sejak Maret 2020 merupakan program-program regular yang sifatnya diperluas seperti PKH dan BPNT. “Sedangkan program-program baru yang sifatnya khusus untuk menghadapi COVID-19 juga telah terselenggara dengan baik berkat kerjasama yang baik antar lembaga dan pemerintah daerah,” tambah Juliari P Batubara.

Penyaluran PKH telah sukses mencapai target 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Kemudian Program Sembako atau BPNT yang sebelumnya memiliki target 15,2 juta KPM diperluas cakupannya menjadi 20 juta KPM dan mencapai target tersebut pada September 2020 lalu.

Beberapa program juga akan langsung dijalankan pada Januari 2021 mendatang, baik yang sifatnya regular seperti halnya program PKH dan BPNT yang akan diselenggarakan mulai Januari 2021, maupun program BST yang akan diselenggarakan Januari hingga Juni 2021.

Klaster perlindungan sosial dalam program PEN memang diinstruksikan oleh Presiden untuk langsung disusun kembali rencana program penyalurannya pada Kuartal I 2021.

Hal ini untuk menjaga konsumsi nasional dan diharapkan berkontribusi untuk pemulihan ekonomi. “Semua rakyat yang mendapat dampak terbesar dan berada pada strata terbawah harus dibantu. Baik penyerapan sampai Desember 2020 hingga tahun depan, kita akan tetap focus agar program-program perlindungan sosial baik itu yang ada di Kemensos, Kemenaker,maupun Kementerian dan Lembaga lainnya akan kita dorong karena berdampak terbesar bagi masyarakat terbawah,” imbuh Budi Gunadi Sadikin.

Lebih lanjut lagi, fokus kedua program PEN adalah mengejar penyerapan bantuan untuk UMKM, karena lebih dari 90% UMKM menyerap tenaga kerja dan berkontribusi lebih dari 50% PDB Nasional.
“Kita masih ada sisa 2 bulan di Kuartal IV 2020 ini. Sisa anggaran PEN secara keseluruhan Rp170-180 Triliun. Minimal kita mengejar penyerapan Rp100 Triliun sampai Desember, dan jika bisa menyerap semuanya,” tegas Budi Gunadi Sadikin.

“Semoga program-program yang diluncurkan ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya khususnya bagi saudara-saudara kita yang terdampak pandemi COVID-19,” tutup Juliari P. Batubara.

Sementara itu, Habib Ismail Bin Yahya juga menerangkan bahwa Pemerintah Provinsi Kalteng telah menyalurkan berbagai bansos sebagai upaya membantu masyarakat di Prov. Kalteng yang terdampak pandemi Covid-19. Bantuan sosial yang telah disalurkan meliputi Bantuan tunai bagi 63.870 KPM, bantuan tunai bagi 1.000 anak luar panti, bantuan tunai bagi 1.662 penyandang disabilitas, bantuan tunai bagi 1.150 lanjut usia, bantuan sembako bagi 112.429 KPM dan bantuan sembako bagi 750 anak dalam lembaga kesejahteraan sosial. Plt Gubernur Habib Ismail Bin Yahya berharap bantuan yang disampaikan tepat sasaran. (FR)

Diskominfo Kalteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *