PARFI membangun sistem keanggotaan melalui pembentukan karakter keprofesian Artis Film dalam menghadapi tantangan jaman

oleh -193 views

Jakarta, Meskipun bangsa ini sedang dirundung suasana Pandemi Virus Covid 19 atau lebih populer dengan sebutan Virus Corona, Parfi selaku orgnisasi yang memayungi Artis Film ini tidak berhenti dalam bekerja, baik secara jarak jauh melalui online, maupun dengan pertemuan yang sangat terbatas, dan tidak melanggar peraturan yang telah digariskan oleh pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus Covid 19 ini.

Di akhir minggu yang mendung ini, kami mendatangi Tenor Amin Sutanto sebagai pengurus bidang keorganisasian di PB Parfi, dan Rully Rahadian sebagai pengurus bidang Pendidikan PB Parfi, di sebuah tempat di Jakarta Selatan, yang kebetulan sedang bertemu dalam sebuah obrolan santai.

“Mas Tenor selaku pengurus bidang organisasi sudah membuat formulasi dalam membangun jaringan dari PB Parfi ke daerah-daerah. Kiprahnya dalam membangun jaringan organisasi masa Gemantara yang telah ditanganinya dalam dua dekade merupakan sebuah guarantee dalam menjalankan job descnya di kepengurusan PB Parfi”. Ujar Rully Rahadian menjawab pertanyaan tentang sistem organisasi dalam tubuh Parfi.

“Dengan tertatanya organisasi yang baik, tentunya akan mendukung kinerja Parfi sebagai organisasi yang telah eksis lama. Tentunya Parfi membutuhkan penyegaran-penyegaran, serta kemampuan adaptasi agar bisa menyesuaikan diri dengan kondisi kekinian yang bisa connect dengan masyarakat Indonesia masa kini.” Imbuh Rully lagi.

“Dalam pola organisasi tentunya kami harus mulai membentuk figur-figur muda, dan tetap menempatkan Artis-artis Senior yang kaya akan pengalaman dan ilmu di dalam sistem organisasi, agar terjadi transfer ilmu dari yang senior kepada yang junior, serta tertata dan terstruktur dalam implementasi konsep untuk membangun SDM dunia Film yang santun, cerdas dan elegan. Tentunya harus ada koordinasi dengan bidang lain, khususnya bidang pendidikan. “Tegas Tenor dalam menjelaskan pemikirannya tentang organisasi Parfi. Sistem organisasi yang dibangun adalah pola keorganisasian berdasarkan wilayah, dan rekrutmen keanggotaan akan diatur dalam bentuk penyaringan yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang dibuat oleh PB Parfi.

“Dunia Film merupakan bidang yang kompleks dan sarat dengan integrasi pemahaman rasio dan rasa. Seorang pekerja Film yang baik adalah figur yang memiliki kemampuan intelektual yang baik, sekaligus memiliki pemahaman mental spiritual yang mumpuni. Seorang Aktor, Sutradara, Kamerawan, Editor dan pekerja Film lainnya yang terlibat dalam proses kreatif dan sistem manajerial adalah seorang profesional yang dituntut bekerja secara disiplin dan terukur, serta sudah sepantasnya ada Benchmark yang melegitimasi para pekerja Film dalam hal keprofesiannya” Papar Rully.

Pria kelahiran Bandung jebolan Institut Teknologi Bandung ini menegaskan bahwa Artis Film adalah sebuah profesi yang prestisius, sama seperti profesi dokter, lawyer, banker dan lain sebagainya. Masalahnya adalah bagaimana si artis tersebut membangun kapasitas dirinya, sehingga layak dan pantas tampil di muka publik menyandang profesi yang mempunyai nilai, dan artis Film akan tampil seacara elegan serta mampu memberi pencerahan kepada masyarakat melalui karyanya.
Disinilah peran Parfi dalam membangun potensi Artis Film, serta mengakomodir kebutuhan-kebutuhannya tersebut dalam bentuk program sosialisasi dan konsep pendidikan yang tepat sesuai situasi dan kondisi yang berlaku do masyarakat.

“Secara umum, Parfi memandang Film bukan sekedar hiburan dan tontonan, melainkan tuntunan dan sarana ajar yang bisa dikemas secara menghibur, namun bersifat mendidik, mempunyai nilai ideal, dan tetap bernilai komersial. Ini jelas, karena Film apapun bentuknya, selalu ada aspek bisnis di dalamnya. Artis Film dan pekerja Film harus hidup, dan Film sebagai karyanya, harus bisa menghidupi dirinya sebagai seorang profesional.” lanjut Rully lagi. Wajahnya yang kerap muncul di layar televisi sebagai model iklan beberapa produk, serta continuity presenter di sebuah stasiun televisi swasta di era 90an ini menegaskan bahwa hal itu bisa tercapai dengan adanya sistem triple helix, yaitu adanya sinergi antara Parfi, Pemerintah dan Pihak swasta. Jika hal ini bisa terjadi, maka Industri film akan kembali bergeliat, dan akan membangun pekerja-pekerja Film yang profesional.

“Hal yang penting dalam situasi bangsa kita yang ada dalam ranah Assymetric Warfare atau Perang Asimetris ini, Film bukan sekedar mata dagang dan karya seni. Film adalah “senjata” dalam memerangi gempuran musuh dalam peramg Non-Tradisional yang tidak bisa kita lihat musuhnya ini. Yang jelas budaya kita yang dirusakndan dilemahkan, sehingga bangsa ini kehilangan karakter dan identitasnya. Indonesia adalah negara yang sangat sexy di mata dunia. Entah berapa banyak negara ingin menguasai Indonesia, khususnya sumber daya alam yang berlimpah. Film kini bukan lagi hiburan semata, namun ke dalam harus menjadi pemersatu bangsa dan penggugah rasa menjadi bangsa dan warganegara Indonesia, serta keluar menjadi media untuk Marketing The Nation.” pungkas Rully dalam menutup pembicaraan. Menurut pakar kebangsaan yang sering berceramah ke berbagai pelosok Indonesia tentang wawasan kebangsaan dan Bela Negara ini menekankan bahwa Parfi sebagai organisasi milik bangsa Indonesia berpegang pada prinsip kearifan lokal, agar terus maju dengan prinsip Saling Asah, Saling Asih, Saling Asuh dan Saling mengharumkan satu sama lain. Parfi akan terus memberikan yang terbaik agar Artis Film sebagai profesional, juga mampu berikiprah sebagai bangsa Indonesia yang berkarakter santun, cerdas, bersahaja dan berwawasan kebangsam serta bersikap Bela Negara.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *