PERAN TENAGA KESEHATAN RSUD DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA, DALAM UPAYA PENCEGAHAN COVID-19

oleh -191 views

KALTENG.(jurnal88)

Pada awal tahun 2020 munculnya penyakit baru yang mengakibatkan sebuah masalah kesehatan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia / World Health Organization (WHO) melaporkan pertama kalinya pada tanggal 31 Desember 2019. Penyakit ini mirip Pneumonia yang tidak dapat dijelaskan penyebab etiologinya. Penyebab penyakit ini diketahui karena Coronavirus, dan kasus terus berkembang pesat.

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) berawal dari kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, dari kota tersebut virus terus menyebar ke seluruh dunia sampai saat ini, mengakibatkan peningkatan angka kesakitan yang sangat cepat dan juga mengakibatkan kematian pada orang yang terkena COVID-19 terutama yang disertai dengan penyakit lainnya seperti Darah Tinggi, Diabetes, Kanker, PPOK, Asma dan lainnya. Kemudaian pada tanggal 12 Febuari 2020, WHO menamainya Virus Corona dengan nama resmi COVID-19.

Kasus pertama penyakit COVID-19 terkait dengan paparan langsung yang terjadi dalam lingkungan Pasar Makanan Laut Huanan di Wuhan, penularan dari hewan ke manusia dianggap sebagai mekanisme utama. Namun kasus selanjutnya, tidak terkait dengan mekanisme paparan ini. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa virus juga dapat ditularkan dari manusia ke manusia, dan orang yang memiliki gejala adalah sumber penyebaran COVID-19 yang paling sering.

Karena kemungkinan penularan sebelum gejala terjadi, dengan demikian individu yang tetap tanpa gejala dapat menularkan virus, isolasi adalah cara terbaik untuk menahan epidemi ini.
Seperti halnya gangguan patogen pernapasan lainnya, termasuk flu dan rhinovirus, penularan diyakini terjadi melalui tetesan pernapasan dengan (partikel berdiameter 5-10 m) dari batuk dan bersin. menjadi perantara antara kelelawar dan manusia. Karena mutasi pada strain asli bisa secara langsung memicu virulensi terhadap manusia, walapupun tampa ada perantara.

Transmisi aerosol juga dimungkinkan dalam kasus paparan yang berkepanjangan terhadap peningkatan konsentrasi aerosol di ruang tertutup. Analisis data yang terkait dengan penyebaran SARS-CoV-2 di Cina menunjukkan bahwa kontak erat antara individu diperlukan. Individu pra dan tanpa gejala dapat berkontribusi hingga 80 % dari transmisi COVID-19. Penyebarannya terbatas pada anggota keluarga, profesional kesehatan, dan kontak dekat lainnya dengan siapapun (6 kaki, 1,8 meter).

Mengenai jumlah durasi kontaminasi pada benda dan permukaan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat ditemukan pada plastik 2-3 hari, stainless steel 2-3 hari, kardus hingga 1 hari, tembaga hingga 4 jam. Selain itu, kontaminasi lebih tinggi di unit perawatan intensif (ICU) daripada bangsal umum dan SARS-Cov-2 dapat ditemukan di lantai, mouse komputer, tong sampah, dan pegangan tangan serta di udara hingga 4 meter dari pasien.

Pertama kali Covid-19 di Indonesia ditemukan pada tanggal 2 Maret 2020, pasien pertama berasal dari kota Depok, setelah itu penyakit ini terus berkembang menjadi sekitar 12.000 kasus pada Mei 2020, melihat cepatnya virus ini menyebar menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang cukup tinggi di Indonesia, sehingga menyebabkan berbagai rumah sakit kewalahan dalam menanggani COVID-19, bahkan menelan korban dari tenaga medis baik dari dokter maupun perawat, maka diperlukan suatu adanya kerjasama yang komprehensif dari seluruh sektor di negara ini, baik kesehatan maupun non kesehatan.
Penyebaran COVID-19 yaitu melalui kontak langsung dengan penderita COVID-19 dan droplet dari seorang penderita positif COVID19 yang jatuh atau menempel pada benda benda di sekitar kita seperti meja, kursi, handle pintu dan lain sebagainya.

” Kemudian ketika kita memegang benda tersebut lalu kita mengusap mata, hidung atau mulut maka virus tersebut akan masuk ke tubuh orang yang sehat.
Pada saat virus tersebut masuk maka akan ada masa inkubasi sekitar 2 sampai 14 hari, rata – rata sekitar 4 hari, gejala yang muncul dapat bervariasi mulai dari tidak ada gejala sama sekali sampai ke gejala yang berat, seperti sesak nafas sampai tidak sadar. Gejala yang umum seperti batuk, demam, kelelahan, sakit kepala, hidung tersumbat, sesak nafas, mual atau muntah, serta diare.

Populasi yang beresiko pada COVID-19 adalah orang dengan penyakit kronis seperti darah tinggi, jantung, kencing manis, kemudian ibu hamil, orang dengan riwayat gangguan pernapasan seperti asma, lansia lebih dari 60 tahun, orang dengan imunokompromis seperti kanker, RA(Rheumatoid Artitis), HIV dan lainnya. Pada kasus orang dengan COVID-19, dapat dibagi 4 kategori besar, yaitu OTG (orang Tanpa Gejala), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), ODP (Orang Dalam Pengawasan) dan Kasus Konfirmasi.(2,5) Kriteria OTG adalah seseorang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang konfirmasi COVID-19. Orang tanpa gejala (OTG) merupakan kontak erat dengan kasus konfirmasi COVID-19.

Kontak erat disini adalah seseorang yang melakukan kontak fisik atau berada dalam ruangan atau berkunjung (dalam radius 1 meter dengan kasus pasien dalam pengawasan atau konfirmasi) dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala Kriteria ODP adalah orang yang mengalami demam (lebih dari atau sama dengan 38 derajat celcius) atau riwayat demam atau gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek atau sakit tenggorokan atau batuk dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di Negara atau wilayah yang melaporkan transmisi lokal, serta orang yang mengalami gejala gangguan system pernapasan seperti pilek atau sakit tenggorokan atau batuk dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi COVID-19 Kriteria PDP adalah orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam dengan suhu lebih dari atau sama dengan 38 derajat celcius atau riwayat demam, disertai salah satu gejala atau tanda penyakit pernapasan seperti batuk atau sesak nafas atau sakit tenggorokan atau pilek atau pneumonia ringan hingga berat dan tidak ada penyebab lain.

Berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara atau wilayah yang melaporkan transmisi lokal, serta orang dengan demam lebih dari atau sama dengan 38 derajat celcius atau riwayat demam atau ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi COVID-19, gejala lainnya orang dengan ISPA berat atau pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan. Kasus Konfirmasi adalah pasien yang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan tes positif melalui pemeriksaan PCR. Pada penderita COVID-19, gejala yang timbul pada pendertita dapat terbagi menjadi gejala ringan, sedang dan berat. Pada gejala ringan demam lebih dari 38 derajat celcius, batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, malaise (tanpa pneumonia, tanpa komorbid), terkadang ada gejala diare, mual, muntah pada penderita dengan gejala ringan dapat dilakukan isolasi mandiri di rumah.

Gejala sedang adalah demam lebih dari 38 derajat celcius, sesak napas, batuk menetap dan sakit tenggorokan. Pada pasien anak batuk dan takipneu, anak dengan pneumonia berat, pada pasien dengan gejala sedang diharuskan di rawat di rumah sakit darurat. Pasien dengan gejala berat memiliki gejala demam lebih dari 38 derajat celcius yang menetap, ISPA berat atau pneumonia berat. Pada pasien remaja atau dewasa dengan demam atau dalam pengawasan infeksi saluran napas, ditambah satu gejala berikut frekuensi napas >30 x/menit, distress pernapasan berat, atau saturasi oksigen (SpO2), <90% pada udara kamar. Pasien anak dengan batuk atau kesulitan bernapas, ditambah setidaknya satu dari berikut ini: sianosis sentral atau SpO2 <90%, distres pernapasan berat (seperti mendengkur, tarikan dinding dada yang berat), tanda pneumonia berat seperti ketidakmampuan menyusui atau minum, letargi atau penurunan kesadaran, atau kejang.
Pada pemeriksanan darah didapatkan leukopenia, peningkatan monosit, dan peningkatan limfosit atipik, pada pasien dengan gejala berat maka harus dirawat dirumah sakit rujukan khusus COVID-19. Melihat cepatnya.

Penyebaran COVID-19,sehingga membuat tenaga kesehatan kewalahan dalam menghadapi kasus ini.
Meskipun masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak, namun tidak berlaku bagi tenaga kesehatan pejuang garda terdepan covid-19. Para tenaga kesehatan tentunya mengetahui pasti apa itu social distancing, namun sebagai pejuang garda terdepan covid-19 mereka tidak boleh berjarak dengan pasien yang dirawatnya.

Proses penangan pada pasien COVID-19 di RSUD Doris Sylvanus dilakukan dengan pendekatan holistik maka tindakan pertama yang harus dilakukan seorang dokter adalah menegakkan diagnostik sebagai pendekatan biologis. Langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan serta evaluasi terhadap pasien serta keluarga pasien, dimulai dengan penanyakan riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, kemudian meminta pasien untuk menggambarkan silsilah keluarga pasien,menanyakan dukungan keluarga pasien terhadap penyakit yang diderita oleh pasien Kemudian untuk pemeriksaan non biologis adalah melakukan analisa sosial pasien yang meliputi interaksi pasien dengan keluarga,rekan kerja, serta masyarakat, kemudian melakukan analisa dari kebudayaan atau kepercayaan tertentu di sekitar pasien misalnya kalau ada pasien dengan penyakit menular maka harus dikucilkan, tidak boleh makan makanan tertentu.

” Langkah selanjutnya melakukan analisa agama atau kepercayaan yang dianut oleh pasien apakah pasien orang yang taat beribadah atau tidak, apakah ada pemahaman tertentu di agama yang dianut oleh pasien mengenai sakit yang dideritanya, karena agama juga mempengaruhi pola piker pasien dalam menerima atau menolak pengobatan yang akan diberikan oleh dokter,
Perjuangan tenaga kesehatan khususnya di Rumah Sakit Doris Slyvanus Palangka Raya sangat berdedikasi tinggi untuk menyelamatkan umat manusia. Harus diakui bahwa banyak petugas kesehatan berada di garis depan wabah koronavirus. Perlu memperhatikan profesional kesehatan yang bekerja di unit gawat darurat atau perawatan intensif dengan beban kerja yang lebih berat dan lebih stres daripada biasanya karena yang dirawat adalah pasien covid-19

Aspek kesehatan dan keselamatan kerja,yang perlu bagi tenaga kesehatan yang perlu diperhatikan seperti pencegahan infeksi, kewaspadaan dini serta penggunaan alat pelindung diri. Strategi pencegahan infeksi yang direkomendasikan oleh WHO dan kementerian kesehatan antara lain Menerapkan kewaspadaan standard terhadap seluruh pasien, memastikan triase, pengenalan awal dan pengendalian sumber, menerapkan kewaspadaan tambahan empiris untuk kasus terduga infeksi , COVID-19 menerapkan kontrol administratratif, pengendalian teknik dan lingkungan.
Untuk kewaspadaan standard, maka dokter di rumah sakit Doris Sylvanus harus memperhatikan hal sebagai berikut : Kebersihan tangan, kebersihan respirasi (etika batuk,bersin), alat pelindung diri sesuai resiko, praktek injeksi yang aman, manajemen benda tajam dan pencegahan cedera, penanganan yang aman, pembersihan dan desinfeksi peralatan perawatan pasien, kebersihan lingkungan, penanganan yang aman dan pembersihan linen yang telah terpakai, manajemen limbah.
Untuk pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri (APD) pada layanan primer beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan APD antara lain adalah Harus dapat memberikan perlindungan
terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya-bahaya yang dihadapi (percikan, kontak langsung maupun
tidak langsung), berat APD hendaknya seringan mungkin, dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan, dapat dipakai secara fleksibel (reuseable maupun disposable), tidak menimbulkan bahaya tambahan ,tidak mudah rusak, memenuhi ketentuan dari standard yang ada, pemeliharaan mudah, tidak membatasi gerak.
Seiring pandemi yang semakin cepat, akses ke alat pelindung diri (APD) untuk petugas kesehatan adalah masalah utama. Staf medis diprioritaskan di banyak negara, tetapi terjadi kekurangan APD sebagai fasilitas yang paling penting. Beberapa staf medis sedang dalam proses menunggu peralatan APD yang sesuai standar, sementara sudah ada pasien yang dirawat telah terinfeksi covid-19, dengan peralatan yang tidak memenuhi persyaratan. Bersamaan dengan kekhawatiran akan keselamatan pribadi mereka, petugas kesehatan cemas tentang menularkan infeksi kepada keluarga mereka. Petugas kesehatan yang menjalani tugasnya untuk merawat pasien dengan usia lanjut usia atau anakanak kecil, juga mereka dipengaruhi adanya kebijkan pemerintah dengan penutupan sekolah, kebijakan jarak sosial, dan gangguan ketersediaan makanan dan hal-hal penting lainnya. Yang paling utama sebagai sumber stress adalah semakin banyak profesional kesehatan yang terinfeksi COVID-19.
Salah satunya tenaga kesehatan dr.Caroline Ivone mengatakan “Penanganan pasien yang konfirmasi positif COVID-19 ini berdasarkan gejala berat atau ringan. Tidak semua pasien pelayanannya sama” ungkap dokter cantik yang juga bertugas sebagai tim komunikasi public Satuan Tugas Covid-19 Provinsi Kalimantan Tengah.
Lebih lanjut dr.Caroline menambahkan, penanganan pasien positif COVID-19 yang tidak bergejala (OTG) yang telah terkonfirmasi positf COVID-19, dapat disarankan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari dan pasien harus dipantau oleh dokter di layanan primer setelah 14 hari karantina pasien harus melakukan pemantauan klinis ke dokter yang berada di layanan primer. Kegiatan yang harus diinstruksikan untuk dilakukan pasien selama melakukan isolasi adalah melakukan pemantuan suhu mandiri setiap pagi dan malam hari, memakai masker, tidur di kamar yang terpisah dari anggota keluarga lain, menerapkan etika batuk yang benar, berjemur di matahari setiap pagi minimal 15 menit, pakaian, peralatan makan dipisahkan dari anggota keluarga lain dan dicuci terpisah

Untuk kamar OTG maka usahakan agar mempunyai ventilasi serta cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan, untuk pembersihan kamar harus dibersihkan dengan desinfektan dan untuk yang melakukan pembersihan harus memakai alat pelindung diri. Bagi keluarga pasien OTG, bagi yang melakukan kontak erat harus memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, memakai masker, menjaga jarak minimal 1 meter, senantiasa mencuci tangan, membersihkan rumah dengan desinfektan dan membuka jendela agar sirkulasi udara dapat bertukar dengan udara di luar rumah. Pada pasien dengan gejala ringan maka diinstuksikan melakukan isolasi mandiri 14 hari, serta dipantau oleh dokter di fasilitas kesehatan tingkat primer dan setelah 14 hari harus melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan tingkat primer untuk melakukan pemeriksaan klinis, untuk pasien dan keluarga diinstruksikan sesuai dengan instruksi yang telah dipaparkan di atas. Pada pasien OTG dengan gejala sedang dan berat dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut, untuk gejala sedang dirujuk ke rumah sakit darurat COVID 19,

“Sedangkan untuk gejala berat dirujuk ke rumah sakit rujukan COVID-19. Pada pasien ODP dan PDP yang belum terkonfirmasi COVID-19, bila tanpa gejala maka melakukan isolasi mandiri 14 hari, serta melakukan pemeriksaan ke fasiltas kesehatan tingkat pertama setelah 14 hari untuk mengecek keadaannya serta berikan vitamin C.
Sebagai seorang tenaga kesehatan dr.Loline tentunya tidak dapat bekerja sendiri untuk menangani pasien – pasien yang ada, diperlukan kolaborasi dengan pihak-pihak lain seperti tenaga kesehatan lainnya (perawat, bidan, tenaga laboratorium, apoteker, tenaga kesehatan masyarakat), puskesmas, serta rumah sakit.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pasien ODP dan PDP yang belum terkonfirmasi COVID-19, bila mempunyai gejala ringan maka harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, kemudian melakukan pemeriksaan RDT/PCR pada hari ke 1 dan ke 2 di fasilitas kesehatan yang ditunjuk, pemeriksaan hematologi lengkap (hematologi rutin, hitung jenis leukosit, laju endap darah), foto toraks, untuk tindakan.

” Pencegahan selama di rumah memakai masker, menjaga jarak di keluarga, tidur di kamar terpisah, menerapkan etika batuk, memisahkan alat makan dan pakaian dari anggota keluarga lain, mengukur suhu tubuh mandiri sehari 2 kali, jika suhu tubuh lebih dari 38 derajat celcius maka harus melaporkan ke petugas kesehatan atau ke dokter di rumah sakit, untuk kamar tidur pasien harus memperhatikan ventilasi serta sirkulasi pertukaran udara di kamar tidur pasien, membersihkan kamar tidur pasien dengan desinfektan dan untuk yang membersihkan harus memakai alat pelindung diri, untuk keluarga yang melakukan kontak erat harus memeriksakan diri ke petugas kesehatan, memakai masker bagi anggota keluarga, menjaga jarak minimal 1 meter, melakukan desinfektan di rumah dan usahakan rumah mempunyai sirkulasi pertukaran udara yang baik.
Sebagai Tim Komunikasi Publik Satuan Tugas Covid-19 Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dr.Loline juga menghimbau kepada masyarakat agar “Selalu patuhi protokol kesehatan, cuci tangan, pakai masker dan menjaga jarak agar memutus matai rantai covid-19” imbuhnya.

Pada tanggal 10 November 2020 yang bertepatan dengan Hari Pahlawan, sebagai masyarakat mari kita apresiasi yang setinggi tingginya pahlawan kesehatan atas dedikasi dan pengabdian mereka. Bukan hanya di Bumi Tambun Bungai tercinta ini, di Indonesia bahkan tenaga kesehatan di seluruh dunia. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri untuk melawan pandemi covid-19 ini. Dengan kesadaran menerapkan social distancing dan mematuhi protokol kesehatan mari putuskan mata rantai penyebaran covid-19. (Fera/PranataHumasKominfoKalteng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *